Otak
merupakan organ yang dimana pikiran dan emosi saling keterkaitan yang prosesnya
sangat rumit, sehingga dapat membuat suatu analisa dan komparasi. “software” di otak yang menjadikan
pikiran itu terstruktur dan logis. “software”
otak hendaknya dipelihara dengan selalu memberi informasi.
Dengan meningkatnya umur, kemampuan
otak untuk menerima dan memproses, serta mengingat mengingat lebih lambat.
Diketahui bahwa mahasiswa berumur 20 tahun lebih cepat menerima ilmu dari pada
mahasiswa yang berumur 40 tahun. Istilah untuk keadaan ini disebut “Age-related cognitif decline” tatu erosi
pemikiran.
Yakinlah bahwa setiap orang berusaha
menghindari “decline” ini. Terdapat dua faktor yang melindungi otak, yaitu:
edukasi dan nikotin. Semakin tinggi dan banyak edukasi / belajar(spesialistis),
semakin berkurang kemungkinan menurunnya IQ seseorang. Infomasi akan lebih
bermakna, jika merupakan sesuatu yang harus dipelajari, seperti bahasa atau
komputer.
Susunan syaraf pusat sangat plastis
(neuroplastis), artinya struktur dan fungsinya sangat dinamis, selalu bereaksi
terhadap stimulan dan kebutuhan yang berubah. Belajar menyebabkan perubahan
struktur jaringan, network antar neuron-neuron. Semakin banyak kita belajar,
semakin banyak terjadi hubungan antar neuron dalam otak. Denan demikian jika
kehilangan beberapa fungsi neuron tidadk menjadi masalah karena jaringan /
networknya luas.
Menurut Miles rata-rata seorang
lanjut usia, IQ-nya menurun 5 poin setiap 10 tahun, sedangkan menurut Roizen 5% (3 sampai 6 %) setiap dekade
(8 tahun). Kapasitas belajar pun menurun dengan bertambahnya umur dimana
menurut Thorndike, usia 22-45 tahun merupakan “peak peformance age”. Namun apakah semua otak manusia memiliki
erosi IQ ini ?
Hal ini tidak tebukti dari
penelitian IQ dan indikator kognitif lainnyayang dilakukan terhadap
dokter-dokter di fakultas kedokteran Universitas Harvard sejak 1960.
Faktor kedua adalah nikotin, yang
merupakan sesuatu yang amat konstradiktif. Di satu pihak nikotin, yang
merupakan sesuatu yang amat konstradiktif. Si satu pihak nikotin melindungi
orang terhadap penyakit Alzheimer dan
Parkinson, karena mempengaruhi zat
kimia otak, namun dilain pihak, nikotin yang dihisap waktu merokok merusak
kesehatan pada umumnya dan otak pada khususnya.
Asap rokok mengandung zat kimiayang
mengakibatkan stres oksidatif. Penelitian juga menunjukkan bahwa perokok berat
lebih berkemungkinan menderita kelainan kognitif, bahkan pada umur 50 tahunan,
dari pada yang tidak merokok. Saat ini para peneliti farmasi sedang menyelidiki
nikotin yang kurang toksik, yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati
penyakit neurodegeneratif.
Suatu studi baru menemukan bahwa
orang yang berkulit gelap lebih rentan dari yang kulitnya putih, sehingga
mungkin ada hubungan antara nikotin dengan melamin, yang memberi warna pada
kulit. Makin tinggi kadar melaminnya, makin banyak nikotin disistemnya. Hasil
para peneliti yang dikemukakan dalam “Pharmacology, Biochemistry, and Behaviour” dianggap belum definitif, karena sampelnya hanya
terdiri dari 150 orang Afrika-America, namun para peneliti menyatakan bahwa
yang kulitnya gelap secara bermakna lebih tinggi kadar nikotinnya dan lebih
tergantung pada adiksinya.
Dimasa kini telah banyak diproduksi
berbagai mainan baik untuk anak maupun usia lanjut, yang dikenal sebagai senam
otak (brain gym), seperti teka-teki
silang, sudoku, “games” dikomputer,
dll. Bahkan diJepang produksi mainan bagi orang tua lebih banyak dari pada
anak-anak. Selain itu Senam Otak juga dapat dilakukan secara fisik yang sudah diterapkan
diIndonesia.
Telah terbukti pula bahwa jika
mempelajari bahasa yang baru, dapat memperbaiki fungsi otak. Anak yang “Bilingual” lebih lambat menerima
informasi dari anak yang “monolingual”,
tetapi berakhir dengan otak yang lebih baik, yang terbukti baik pada mereka
maupun orang tuanya, yang lebih cepat dalam menganalisa informasi. Dalam
meningkatkan kemampuan otak, sangat dianjurkan untuk mempelajari bahasa baru
pada usia berapapun. Otak memerlukan stimulasi terus-menerus.
Terbukti pula bahwa penggunaan
Ginkgo (Ginkgo biloba) yang merupakan ekstrak daun pohon Ginkgo, melancarkan
darah keotak dan memperlambat jalannya penyakit Alzheimer. Agar berhasil,
dipelukan penggunaan selama 2 bulan, namun ada pendapat bahwa Ginkgo hanya
berhasil jika terdapat kerusakan pada peredaran darah otak. Suatu warning(peringatan) harus diberikan, yaitu jaringan digunakan bersamaan dengan
aspirin/ aspilet, karena kedua-duanya berfungsi mengencerkan darah.